TNI Minta Kapal Pengungsi Rohingya tidak Mendarat di Indonesia, Penolakan Juga Dilakukan Thailand dan Malaysia


Sekitar 8.000 pengungsi Rohingya asal Myanmar dan Bangladesh masih terapung-apung di laut setelah sebagian diselamatkan di Aceh dan Pulau Langkawi.

Thailand, Malaysia dan Indonesia akan lanjutkan tindakan mencegah masuknya manusia perahu Rohingya ke kawasan kedaulatan mereka. Aksi ini tidak mempedulikan imbauan PBB untuk menolong pengungsi.


TNI akui minta kapal pengungsi Rohingya tidak mendarat di Indonesia


Juru bicara Mabes TNI, Mayjen Fuad Basya, mengakui Indonesia telah meminta sebuah kapal pengungsi Rohingya yang berada di perairan Aceh untuk memutar arah dan tidak mendarat di wilayah Indonesia.

Fuad juga mengatakan para pengungsi tersebut diberikan bantuan bahan bakar minyak dan juga makanan untuk dapat bertahan.

"Mereka itu masih berada di tengah laut dan kebijakan Panglima TNI (Jenderal Moeldoko) agar mereka yang masih berada di tengah laut untuk dicegat tidak masuk perairan Indonesia," jelas Fuad kepada wartawan BBC Indonesia, Sri Lestari.

Menurut Fuad kapal pengungsi itu berada sekitar 7-10 mil dari pantai Aceh.

Sementara satu kapal pengungsi lainnya telah mendarat di pantai Aceh Utara pada hari yang sama Minggu (10/05), setelah diselamatkan oleh kapal nelayan.

Pengungsi Rohingya yang berjumlah 582 orang itu ditempatkan di Gelanggang Olahraga Lhoksukon Aceh Utara.

Kontributor BBC Indonesia di Lhoksukon melaporkan identitas ratusan pengungsi itu masih didata oleh UNHCR dan petugas imigrasi Indonesia.
Hingga akhir Februari 2015 lalu, jumlah pengungsi Rohingya di Indonesia mencapai 738 orang.

Thailand, Malaysia dan Indonesia akan lanjutkan tindakan menyeret kembali perahu para pengungsi Rohingya ke laut lepas, untuk mencegah pengungsi mendarat di kawasan kedaulatan mereka. "Ketiga negara memutuskan untuk menolak kedatangan manusia perahu", ujar mayor jenderal Werachon Sukhondhapatipak, jurubicara pemerintah militer Thailand di Bangkok kepada kantor berita Reuters.

Sejauh ini Malaysia dan Indonesia belum mengumumkan kebijakan resmi terkait pencegahan kedatangan manusia perahu ke kawasan kedaulatan kedua negara. Tapi kapal angkatan laut kedua negara dilaporkan telah menyeret sejumlah perahu pengungsi yang mendekati kawasan pantainya kembali ke laut lepas. Para pengungsi mendapat bantuan pangan, air bersih, pengobatan serta bahan bakar, tapi dilarang mendarat.
Baik Mayjen Werachon, maupun para pejabat tinggi yang berwenang menangani masalah ini di Indonesia dan Malaysia tidak bersedia menanggapi imbauan badan pengungsi PBB-UNHCR agar ketiga negara menolong ribuan pengungsi yang terkatung-katung di laut lepas. "Isu pengungsi Rohingya akan dibahas lebih mendalam pada konferensi 15 negara yang akan digelar di Bangkok 29 Mei mendatang," tambah jurubicara pemerintah Thailand itu.

Gara-gara penyelundup manusia

Gelombang pengungsian warga etnis Muslim Rohingya menggunakan perahu ke Indonesia dan Malaysia meningkat dalam beberapa hari terakhir, akibat aksi razia besar-besaran terhadap imigran gelap di Thailand. Imigran gelap etnis Rohingya dari Myanmar dan Bangladesh, biasanya dikirim para penyelundup manusia ke Thalland sebagai tempat transit utama sebelum melanjutkan perjalanan.

Pemerintah Thailand melancarkan razia besar-besaran setelah menemukan kuburan massal berisi 33 jasad etnis Rohingya dan Bangladesh dari Myanmar di kawasan perbatasan negara itu ke Malaysia. Etnis Muslim Rohingya mengalami represi berat di Myanmar dan tidak diakui sebagai warga negara tersebut.

UNHCR memperkirakan dalam tiga bulan terakhir tahun ini sekitar 25.000 etnis Muslim Rohingya dan Bangladesh diperkirakan menjadi korban para penyelundup manusia yang mengirim mereka menggunakan perahu bobrok menuju Malaysia atau Indonesia. "Jumlah manusia perahu Rohingya itu berlipat dua dibanding triwulan yang sama tahun 2014 silam", lapor UNHCR.

sumber BBC: http://bbc.in/1FcCPrD

Sumber DW.DE : http://www.dw.de/thailand-malaysia-dan-indonesia-tolak-manusia-perahu-rohingya/a-18447463

Beginilah nasib kaum Muslimin akibat sekat Nasionalisme (nation state) ... Lalu persatuan apalagi kalau bukan Khilafah yang bisa menyatukan ummat Islam?

Setiap jum'at para khatib di akhir khutbahnya selalu berdoa, Allahumaghfir.. lil Muslimiina wal Muslimat...

Tapi kenyataan apa yang terjadi sesunggunya umat Islam sedang tercerai berai... !!
Yaa.. Nasionalisme kebangsaan telah membuat umat Islam buta akan saudaranya seiman yang sedang tertindas..

«مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِى تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى»
Perumpamaan kaum Mukmin dalam saling cinta, kasih sayang dan kelembutan diantara mereka adalah laksana satu tubuh. Jika salah satu organ sakit maka seluruh tubuh ikut terjaga dan merasakan demam


[www.bringislam.web.id]

Posting Komentar untuk "TNI Minta Kapal Pengungsi Rohingya tidak Mendarat di Indonesia, Penolakan Juga Dilakukan Thailand dan Malaysia "