Hari-hari terakhir Imam Kartosoewiryo
JAKARTA (Arrahmah.com) -
Misteri terkait kematian pejuang Islam dan bangsa Imam DI/TII
Sekarmadji Marijan Kartosoewiryo akhirnya terkuak. Setidaknya bagaimana
proses eksekusi dan lokasi pekuburannya dapat masyarakat ketahui
sekarang.
Sejarawan Mohammad Iskandar menambhkan publikasi 81 foto hari-hari
terakhir pemimpin Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII),
Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo, membuka pengetahuan baru. Foto-foto
itu meluruskan kontroversi yang berkembang selama ini.
Iskandar menceritakan, dirinya pernah bertemu dengan anak buah
Kartosoewirjo. "Mereka bertanya karena banyak isu. Isunya kan nggak
jelas, ada yang bilang ditembak dan tidak diperlakukan secara Islami,"
katanya
Dengan adanya foto ini, masyarakat, ungkap Iskandar dapat mengetahui
secara jelas proses eksekusi mati yang dilakukan. "Ternyata (pemakaman)
diperlakukan secara Islami, disalatkan. Dengan foto ini, kontroversi dan
imajinasi yang mengawang-awang tersingkap," tuturnya.
Dalam foto terlihat jelas proses eksekusi yang dilakukan. Saat di
kapal, Kartosoewirjo tampak dalam foto berdoa dengan dibantu seorang
rohaniwan dari TNI. Usai ditembak, Kartosoewirjo juga diperiksa dokter
dan dimakamkan dengan cara dikafani. Setelah dimakamkan tiang eksekusi
Kartosoewirjo dibakar.
Bagi Iskandar, Kartosoewirjo adalah agen perubahan kala itu. "Dia
tidak puas dengan kondisi yang ada termasuk kondisi masyarakat Islam
saat itu," pungkasnya.
DI/TII gerombolan pengacau?
Ia juga menjelaskan bahwasanya, tuduhan dan anggapan masyarakat bahwa
DI/TII merupakan gerombolan pengacau, disebabkan oleh penyusupan yang
dilakukan oleh PKI dan mengaku-aku sebagai bagian dari DI/TII.
"Merekalah yang diduga sebagai gerombolan yang sering bersikap kasar
terhadap masyarakat. Namun, saya belum bisa mengkonfirmasi nama-nama
tersebut, karena sudah banyak yang meninggal" papar Iskandar.
Yayan, salah satu peneliti kehidupan kartosoewiryo membenarkan rumor
yang beredar tersebut. Menurutnya, sidang Mahmilub salah seorang tokoh
PKI yang pernah menjadi perwira angkatan darat mengakui bahwa ia pernah
menyusupkan anggota PKI ke dalam DI/TII saat membacakan eksepsinya.
"Ketika Suparjo dituduh oleh oditur telah menaruh tentara ke dalam
Dewan Revolusi, ia menyatakan bahwa ia menaruh tentara ke Dewan Revolusi
bukan untuk memperkuat, tetapi untuk menikam dari dalam sebagaimana
pernah ia lakukan dahulu kepada NII, nah ngaku dia" ungkap Yayan.
Tuduhan Hukum terhadap Sang Imam
Penulis buku 'Hari Terakhir Kartosoewirjo', Fadli Zon menyebut ada
tiga kejahatan politik yang disangkakan pemerintah pada Kartosoewirjo.
Pertama, memimpin dan mengatur penyerangan dengan maksud hendak
menggulingkan pemerintah pemerintahan yang sah. Kedua, dituduh ingin
memisahkan diri dari Indonesia. Dan ketiga Kartosoewirjo dituduh
melakukan makar pembunuhan terhadap presiden.
"Namun, yang diakui oleh Kartosoewiryo dalam pengadilan hanya ingin
mengguligkan pemerintahan, untuk keluar dari Indonesia dan membunuh
presiden ia tolak" jelas Fadli.
Pengadilan militer pada 16 Agustus 1962, menjatuhkan vonis mati bagi
Kartosoewirjo. Dia akhirnya ditembak mati dan dimakamkan di Pulau Ubi,
Kepulauan Seribu pada September 1962.
Kejadian menarik sebelum terjadinya eksekusi mati, Sekarmadji
Maridjan Kartosoewirjo memiliki permintaan khusus kepada Mahkamah
Darurat Perang (Mahadper).
Sardjono Kartosoewirjo, anak bungsu Kartosoewirjo mengungkapkan, ada empat permintaan ayahnya saat itu.
Pertama, meminta bertemu dengan perwira NII terdekat, namun ditolak.
Kedua, meminta eksekusi dilihat oleh perwakilan keluarga, juga ditolak.
Ketiga, Kartosoewirjo minta jenazahnya dikembalikan ke keluarga dan
dimakamkan di pemakaman keluarga, pun diitolak.
"Namun, permintaan terkhir yang meminta bertemu dengan keluarga dikabulkan," tutur Sardjono.
Pertemuan Kartosoewirjo dengan keluarga untuk terakhir kalinya, diisi
dengan makan siang bersama. Uniknya, dalam makan siang tersebut, menu
yang disajikan ialah rendang. Padahal, dalam buku tersebut dikatakan
bahwa Dewi Siti Kalsum, istri Kartosoewirjo, tidak terbiasa memakan
rendang.
"Karena tidak terbiasa makan rendang, istri Kartosoewirjo merasa kepedasan," tulis caption foto yang ada dalam buku.
Foto dalam buku menggambarkan Kartosoewirjo sama sekali tidak memakan
rendang yang telah disediakan. Ia hanya merokok dan berbincang dengan
keluarganya.
Caption foto selanjutnya menuliskan, Kartosoewirjo menikmati kopi bersama istrinya sambil bersenda gurau sejenak.
"Anak-anak Kartosoewirjo akhirnya menghabiskan hidangan yang telah
disajikan, daging rendang. Setelah makan bersama, mereka melakukan foto
bersama, dan terlihat Kartosoewirjo memberikan pesan terakhir," tulis
Fadli Zon.
Dalam jamuan terakhir itu, selain sang istri, lima dari tujuh
anak-anak Kartosoewirjo turut hadir, yakni Tahmid Basuki Rahmat, Dodo
Mohammad Darda, Kartika, Komalasari, dan Danti.
Dalam foto bersama keluarga yang terakhir, mata Dewi Siti Kalsum,
istri Kartosoewirjo terlihat sembab, seusai suaminya menyampaikan
pesan-pesan terakhir sebelum dieksekusi mati.
Melalui koleksi 81 fotonya, Fadli Zon menuturkan sesaat menjelang
eksekusi, Kartosoewirjo tampak tenang dan ikhlas tanpa sedikitpun rasa
takut.
Keinginan terakhir Sang Imam
"Kematian hanyalah perpindahan ruh, dari yang berjasad kepada yang
tidak," tutur Sardjono, anak bungsu Kartosoewirjo, menceritakan pesan
terakhir ayahnya.
Menurut Sarjono, Pada detik-detik terakhir, Ketua Mahkamah Darurat
Perang (Mahadper) menyatakan dan menawarkan bahwa ia berhak memenuhi
permintaan terakhir Kartosoewiryo sebelum dieksekusi, meskipun
permintaan tersebut berupa keinginan pergi keluar negeri atau ke pelosok
Amerika asalkan tidak ada unsur persoalan politik, akan Maahadper
luluskan.
"Tetapi, bapak hanya meminta ke mereka (Mahadper), Saya ingin segera
bertemu Allah, karena saya ingin segera tahu, apakah selama ini
kebijakan yang saya jalankan sudah benar dan di terima oleh Allah" jelas
Sarjono menirukan perkataan orang tuanya.
Sarjono pun, menaruh kekaguman yang besar kepada ayahandanya
tersebut, sebab didetik-detik akhir hidupnya, tetap tegar dan hanya
menginginkan suatu hal yang sederhana, segera bertemu dengan Allah.
Semoga Allah menerima segala amal ibadah pejuang Islam Imam
Kartosoewiryo. Amien.
(bilal/arrahmah.com)
Posting Komentar untuk " Hari-hari terakhir Imam Kartosoewiryo"