Keputusasaan Media Liberal di Indonesia Menghadapi Kebangkitan Islam dan Khilafah
Kemudian yang lebih mengejutkan adalah
pernyataan Endy Bayuni, 9 Mei 2013 di Jakarta Globe yang secara terbuka
menyerukan kepada media-media di Indonesia agar bekerja sama memastikan
bahwa kelompok ekstremis Islam yang ia labeli dengan “radikal dan garis
keras” tidak memiliki suara yang dipublish media. Editor senior Jakarta Post yang mengatasnamakan International Association of Religion Journalists itu menyatakan “Jangan berikan ruang sedikitpun pada kalangan garis keras! Silakan
meliputi mereka ketika mereka melanggar hukum, tetapi jangan beri ruang
untuk sekelompok kecil orang-orang itu ketika mereka berjuang melawan
sesuatu yang absurd. Mereka menggunakan media secara efektif dan menipu media yang sesuai dengan cara mereka sendiri. “
Menariknya apa yang dikatakan oleh Endy
Bayumi bersamaan dengan tahap awal penyelenggaraan Muktamar Khilafah
(MK) di 31 kota di seluruh Indonesia di sepanjang bulan Mei – Juni 2013,
yang diselenggarakan oleh Hizbut Tahrir Indonesia dan akan dihadiri
ratusan ribu masyarakat Indonesia. Tokoh-tokoh
liberal ini melalui jaringan media mereka seperti Jakarta Globe dan
Jakarta Post, berusaha mengingkari realitas bahwa umat Islam di
Indonesia secara jelas menginginkan Syariah Islam.
Omong Kosong Kebebasan Berekspresi di Negeri Demokrasi
Media liberal terus berusaha untuk
mengecam bahkan membungkam mereka yang tidak setuju dengan nilai-nilai
cacat sekuler liberal yang mereka anut dan ini merupakan cerminan
kemunafikan dan kelemahan sistem sekuler demokrasi. Karena demokrasi selalu menerapkan kebebasan berekspresi tebang pilih. Media-media
seperti ini jelas hanya akan mempublikasikan suara dari orang-orang
yang setuju dengan nilai-nilai mereka, di saat yang sama terus
mencari-cari kesalahan pihak-pihak yang memiliki sudut pandang berbeda
dan menentang nilai – nilai Sekuler – bahkan ketika suara yang menentang
adalah pandangan dominan dari masyarakat seperti yang ditunjukkan oleh
survei PEW.
Keputusasaan jelas terlihat dari upaya
mereka menyoroti segelintir kecil data minor yang mereka cari-cari dari
setumpuk besar data hasil survey PEW dimana di Asia terdapat prosentase
sangat tinggi penduduk dunia yang mendukung syariah Islam: Pakistan
(84%), Bangladesh (82%), Afghanistan (99%), Indonesia (72%), Malaysia
(86%). Demikian
pula di Timur Tengah dan Afrika, prosentase yang mendukung syariah :
Irak (91%), Palestina (89%), Maroko (83%), Mesir (74%), Yordania (71%),
Niger (86%), Djibouti (82%), Kongo (74%) dan Nigeria (71%). Fitri
Bintang Timur tidak boleh menutup mata dari bentangan data ini hanya
dengan sekedar menampilkan data minor bahwa 76% masyarakat Indonesia
setuju bahwa hak waris antara laki-laki dan perempuan dibagi sama rata.
Begitupun pernyataan tokoh media
sekaliber Endy Bayuni yang nampak putus asa membungkam gelombang
dukungan masyarakat Indonesia terhadap Syariah dan Khilafah melalui
Muktamar Khilafah 2013 yang menggema di seluruh nusantara, dan telah
berjalan dengan ijin Allah di beberapa kota, dihadiri puluhan ribu umat
dan menuai kesuksesan luar biasa.
Hal ini mengingatkan apa yang dikatakan
Noam Chomsky dalam bukunya “Kuasa Politik Media” yang mengungkap peran
propaganda media massa dalam rekayasa opini publik, dimana para penguasa
sebenarnya memiliki tujuan yang kontraproduktif dengan keinginan
publik/ rakyat untuk terus melanggengkan kekuasaan, bahkan Noam Chomsky
juga mengatakan bahwa pengusaha media liberal telah mendidik orang-orang
bodoh sebagai corong pengusaha dan penguasa.
Hipokrasi terang-terangan yang
ditunjukkan oleh tokoh-tokoh liberal seperti ini hanyalah bukti lain
dari kegagalan sistem sekuler Barat dan penjelasan mengapa semakin
banyak umat Islam menolak demokrasi sekuler dan memeluk Islam sebagai
sistem yang mampu menentukan masa depan politik, ekonomi, dan sosial
mereka.
يُرِيدُونَ لِيُطْفِئُوا نُورَ اللَّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَاللَّهُ مُتِمُّ نُورِهِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ
“Mereka
ingin memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan)
mereka, dan Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang
kafir membencinya.” (QS. Ash-Shaf 61:8)
Realitas Kebangkitan Khilafah yang Tak Terbantahkan
Sebenarnya tidak terlalu diperlukan penelitian ataupun survey ilmiah akan hal ini.Dari
Maroko Afrika Barat hingga Merauke di Timur Indonesia, termasuk dari
populasi Muslim di negeri-negeri Barat, suara yang merindukan Syariah
Islam kian nyaring terdengar. Meski media-media sekuler nyaris tidak pernah meliputnya bahkan membungkamnya namun gaung suaranya kian nyaring membahana.
Di tengah arus perubahan besar dan
pergolakan politik yang tengah terjadi di berbagai belahan dunia Islam
saat ini, Muktamar Khilafah 2013 yang diselenggarakan Hizbut Tahrir
Indonesia tak lain bertujuan sebagai medium untuk mengokohkan visi dan
misi perjuangan umat untuk tegaknya kembali kehidupan Islam. Karena
itulah tema “Perubahan Besar dunia Menuju Khilafah” diambil, untuk
mengingatkan bahwa perubahan dunia sesungguhnya adalah sebuah
keniscayaan, namun arah perubahan yang semestinya adalah menuju tegaknya
Khilafah bukan yang lain.
Kami mengajak Anda untuk memberikan
dukungan Anda kepada Hizbut Tahrir untuk penegakkan kembali Khilafah;
dan bersumpah setia kepada sarjana terhormat, mujtahid terkemuka, dan
politisi ulung, Syeikh Ata bin Khalil Abu Ar-Rashtah, Amir Hizbut
Tahrir, sebagai Khalifah bagi umat Islam yang akan menjaga dan
melindungi anak-anak umat ini, memuliakan kaum perempuannya, menyatukan
negeri-negeri Islam, dan mengembalikan posisi umat Islam sebagai khairu
Ummah, Insha Allah!
Fika M. Komara, M,Si
Member of Central Media Office Hizb ut Tahrir